Dalam sebuah acara wisuda Huffaz, seorang ustadzah berbisik ditelinga santrinya "ketika kamu memilih untuk menjadi penghafal Qur'an, maka ketahuilah bahwa penghafal Qur'an tidak punya hari libur. Dari Ahad hingga Ahad lagi, setiap hari tanpa jeda, Al-Qur'an menuntut kita untuk terus bersamanya"
Untuk kamu yang sedang berjuang dalam menghafal Qur'an, ketahuilah bahwa kamu sedang berada dalam kemuliaan. Hari demi hari yang kamu habiskan untuk menghafal adalah hari-hari yang penuh dengan keberkahan. Lelah yang kamu rasakan ketika hafalan tak kunjung masuk sejatinya adalah rasa cinta dari ayat tersebut yang tidak ingin cepat-cepat ditinggalkan. Ayat tersebut nyaman dan rindu, lalu kenapa kamu tidak bersyukur? Cepat hafal ataupun lambat hafal memiliki keutamaan dan kemuliaannya masing-masing. Ketika cepat hafal, bukankah itu anugerah dari Allah? Allah memilihmu untuk terus melanjutkan hafalanmu. Kamu harus mensyukurinya dan jangan sombong. Namun ketika kamu lambat dalam menghafal, maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan kamu mendapatkan banyak kebaikan dan keberkahan dari ayat yang kamu hafal tersebut. Bukankah pahala dicatat berdasarkan usaha kita, bukan dari cepat atau lambatnya kita menghafal.
Ketika kamu mulai lelah dan ingin menyerah, ingat lagi tujuan kamu menghafal Qur'an. Tujuan dari seorang penghafal Qur'an adalah menghafal Qur'an itu sendiri. Tidak peduli berapa ayat yang dihafal, berapa juz yang Allah kasih, seberapa mutqin hafalanmu, bahwa sesungguhnya garis finish dari seorang penghafal adalah kematian. Lelah itu manusiawi namun jangan pernah menyerah. Kemuliaan besar sedang menunggumu kelak di akhirat. Tidak apa-apa capek dulu. Tidak apa-apa tidur kau kurangi demi menambah ataupun memurojaah hafalanmu. Tidak apa-apa suaramu habis dalam melantunkan ayat demi ayat. Tidak apa-apa waktu main kau kurangi. Tidak apa-apa kau mengurangi makan (banyak puasa). Bahkan tidak apa-apa jika semua waktu yang kau korbankan itu tidak menjamin hafalanmu kuat (mutqin). Benar, tidak apa-apa selama kamu masih diberikan anugerah untuk terus bersama dengan Qur'an. Semua itu tidak apa-apa selama hatimu masih merasa gelisah ketika sehari saja kau meninggalkan Qur'an. Kenikmatan bersama Qur'an tidak akan pernah dirasakan bagi mereka yang tidak serius berjuang bersama Qur'an. Air mata yang tumpah ketika hafalanmu tak kunjung masuk akan menjadi saksi kelak di akhirat bahwa ia hadir karena cintamu kepada Qur'an. Pun dengan air matamu yang tumpah lantaran haru karena akhirnya bisa menghafal ayat tersebut juga akan menjadi saksi kelak di hadapan Tuhanmu. Maka, ketika rasa lelah itu hadir, sesungguhnya adalah menjadi ujian untuk menentukan seberapa besar cintamu. Semakin besar cintamu maka semakin besar perjuanganmu. Cinta dan perjuangan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Maka dari itu, pupuklah terus hatimu agar semakin cinta dengan Al-Qur'an, karena Qur'an adalah kalam Allah dan petunjuk bagi mereka yang mengaku punya iman.
Setiap hembusan nafas yang tak nampak di kelopak mata kita akan menjadi saksi kelak di akhirat. Satu hembusan yang engkau gunakan untuk mengingat kalam Allah akan menjadi pemberat amalmu di akhirat. Bagaimana dengan seorang penghafal Qur'an yang memilih untuk menggunakan setiap hembusan nafasnya untuk mengingat dan menghafal kalam Allah. Maka tak ada yang sia-sia. Jika benar cintamu, maka tak akan pernah ada kata bosan. Seorang pecinta harus sanggup menjadi pelayan bagi yang dicintai. Ketika kamu mengikrarkan diri untuk mencintai Al-Qur'an, maka Al-Qur'an menuntutmu untuk terus membersamainya, terus menjaganya, dan terus mengamalkannya hingga kematian menjemputmu. Maka bersabarlah, ada kebaikan besar yang sedang menunggumu. Ingat, bahwa segala sesuatu butuh perjuangan. Untuk urusan dunia saja kita harus berusaha dengan keras, apalagi untuk urusan akhirat. Segala sesuatu yang didapatkan tanpa jerih payah, maka dia akan pergi tanpa alasan (tanpa sebab atau cepat hilang).
Ziadah (menambah hafalan) dan murojaah (mengulang hafalan) adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ibaratnya, ziadah itu adalah cinta dan cinta membutuhkan pembuktian yaitu kesetiaan. Kesetiaan inilah yang tercermin dari semangatmu dalam memurojaah hafalanmu. Apa artinya cinta tanpa kesetiaan. Seperti kata orang bijak "Usaha menjaga harus lebih besar daripada usaha mendapatkan". Dan jangan sampai kita mendapatkan musibah dari ayat Qur'an yang telah kita hafal. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : "Aku tidak pernah melihat dosa yang lebih besar daripada orang yang dikasih Al-Qur'an tetapi melupakannya. Ingat bahwa musibah harta jauh lebih ringan dari musibah agama. Menyia-nyiakan hafalan tanpa murojaah adalah musibah agama. Jangan menjadi seorang yang hanya siap ziadah namun tak siap murojaah.
"Menghafal sepenuh hati, murojaah sampai mati"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar