Seandainya tidak ada yang pertama maka
tidak akan ada yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya hingga terakhir.
Pertama, sebuah awal dari segala-galanya. Tiap yang kedua, ketiga dan
selanjutnya selalu memiliki awal. Namun, pertama bisa berdiri tanpa yang kedua
dan deret lainnya. Intinya, pertama itu spesial.
Seseorang dalam hidupnya selalu memiliki
pengalaman pertama. Pertama kali bisa masak, walaupun cuma masak mie instant.
Pertama bisa naik sepeda. Pertama menjadi seorang Ibu. Pertama memiliki mobil
pribadi. Pertama memancing ikan di danau. Pertama kali naik gunung. Pertama
kali menikmati secangkir teh di beranda rumah diiringi angin sepoi-sepoi.
Pertama kali ke pantai dengan pasangan halal. Pertama kali naik haji. Pertama
kali menulis di buku harian. Pertama kali menurunkan ego terhadap pasangan. Pertama
kali...pertama kali...dan selalu ada yang pertama.
Pertama, yang menentukan selanjutnya.
Sudah rahasia umum bahwa kesan pertama
dalam pertemuan pertama akan menentukan pertemuan selanjutnya. Ketika pertemuan
pertama mengesankan bagi seseorang, maka orang tersebut akan mengadakan
pertemuan selanjutnya. Namun apabila salah seorang atau keduanya merasa
pertemuan tersebut tidak mengesankan, maka tidak akan ada pertemuan kedua,
ketiga, dan selanjutnya. Pertemuan tersebut akan menjadi pertemuan yang pertama
dan terakhir. Maka dari itu ‘pertama’ itu sangat penting.
Jika kamu sedang atau baru saja
mengalami hal yang ‘pertama’ dalam hidupmu, selamat kamu adalah orang yang
berprogres. Kamu mau mencoba hal yang ‘pertama’ dalam hidupmu. Itu adalah sebuah
anugerah yang patut kamu syukuri. Banyak orang diluar sana takut untuk mencoba
hal yang menjadi ‘ pertama’ dalam hidupnya. Entah takut gagal atau memang
karena malas untuk berprogres.
Lalu, apakah sudah begitu berhenti
sampai di sini?
Tentu saja tidak, ketika ada yang
pertama maka hampir dipastikan kemungkinan besar akan ada yang kedua, ketiga
dan ke selanjutnya. Jangan berhenti sampai di sini, perjuangan kamu baru awal.
Berhentilah sampai kamu menemukan bahwa langkahmu selanjutnya tidak ada
akhirnya. Jika kamu belum menemukannya, maka pantang untuk kamu berhenti.
Berhenti tidak sama dengan istirahat ya
dear. Jika kamu sekarang mengalami kesulitan untuk menggapai sesuatu, kamu
jangan berhenti tapi jangan lupa juga untuk istirahat. Pentingnya istirahat
dalam menambah energi kamu, mampu bangkit untuk menyusun kembali
rencana-rencanamu, strategi untuk meraihnya dan melihat kebelakang (evaluasi)
apa saja yang menyebabkan kamu belum berhasil meraih impianmu. Di sini aku
tidak menggunakan kata gagal karena sejatinya kamu tidak pernah gagal. Ketika
kamu mencoba hal baru, maka hanya ada dua kemungkinan yakni kamu sukses dan
kamu mendapatkan pelajaran dari apa yang sudah kamu lakukan. There are no
loser, just winner or learner. Tidak ada kegagalan. Kegagalan adalah ketika
kamu sudah tidak mau untuk melakukan hal baru tersebut. Selama kamu mencobanya,
maka selama itu pun kamu akan menemukan pelajaran-pelajaran yang membuat diri
kamu semakin tumbuh dan menjadi pembelajar sejati.
Sedih boleh ketika impian kamu belum
tercapai, namun jangan pernah menyerah. Ketika kamu menyerah, maka perjuangan
kamu selama ini tidak akan ada artinya. Menangislah, karena air mata diciptakan
bagi mereka yang bersedih. Menangis bukan berarti kamu lemah. Itu adalah sebuah
bentuk ekspresi diri kamu yang sedang berada dalam sebuah permasalahan yang
kamu belum menemukan titik temunya. Kamu manusia biasa, maka amat sangat wajar
kamu bersedih dan menangis ketika tujuan-tujuanmu belum tercapai, impianmu
masih tersendat, dan lorong kesuksesanmu terlihat masih gelap. Tetapi, jangan
terlalu lama. Sudahi saja yang sudah berlalu. Ambil pelajaran dari hal-hal
kemarin. Jangan biarkan semangatmu patah karena menangis terlalu lama.
Orang-orang sukses di dunia, tokoh-tokoh
inspiratif yang kamu kagumi sebenarnya hampir-hampir tidak akan pernah dikenal
jika mereka menyerah ketika belum sukses di pengalaman ‘pertama’ mereka. Mereka
tidak akan pernah dibicarakan oleh dunia kalau mereka tidak bisa menaklukkan
dunia. Mereka tidak akan menjadi juru bicara di seminar-seminar perkuliahan
kalau mereka menyerah ketika mengalami kesulitan dalam penelitian lab mereka.
Mereka tidak akan pernah mendapatkan penghargaan Nobel jika mereka menyerah
mengemukakan teori mereka. Mark Zuckerberg, CEO Facebook tidak akan pernah
diketahui dunia jika ia putus asa ketika facebook tidak dihargai ketika
awal-awal peluncurannya. Jack Ma tidak akan pernah menjadi salah satu orang
terkaya di China apabila ia menyerah ketika banyak keterbatasan yang hadir dalam
hidupnya, namun berhasil dilewatinya dan mendirikan Alibaba. Apple tidak akan
pernah menjadi smartphone terlaris di dunia jika ia minder ketika awal
peluncurannya yang hanya mengandalkan 2G, sedang saat itu lagi booming 3G.
Malala Yousafzai, seorang gadis muda Pakistan tidak akan menjadi salah satu gadis paling
berpengaruh di dunia jika pada saat itu takut untuk menyuarakan hak perempuan
yang tertindas. Barack Obama tidak akan pernah menjadi persiden petama Amerika yang
berkulit hitam jika pada saat itu ia malu untuk menggapai mimpinya karena latar
belakang rasnya. Dan masih banyak lagi seseorang yang terkenal, sukses dan
berpengaruh yang mereka mulai dari ‘pertama’ dan tidak menyerah ketika ada
hambatan dalam menggapai hal ‘pertama’ yang mereka lakukan.
Bagi umat Muslim, mungkin sudah sering
mendengar tentang kisah Nabi Adam alaihissalam. Beliau adalah manusia pertama
sekaligus nabi pertama yang diciptakan oleh Allah Swt. Singkat cerita beliau
diturunkan ke bumi dan berpisah dengan sang istri. Menurut beberapa riwayat,
nabi Adam diturunkan di daerah India sedangkan sang Istri (Hawa) diturunkan di
daerah Jedah. Hari demi hari, bulan demi bulan hingga tahun demi tahun mereka
berpisah namun tak surut semangat Nabi Adam untuk menemukan sang istri.
Bayangkan apabila baru satu purnama sejak perpisahan dengan Hawa, beliau (Nabi
Adam) sudah menyerah maka dapat dipastikan aku, kamu, dan semua oang-orang yang
di bumi ini tidak akan pernah ada. Beliau mungkin lelah, berjalan melangkah tak
tentu arah, di tempat antah berantah, melewati lembah, namun beliau tidak
pernah menyerah. Perjuangan dan doa yang beliau dan sang istri panjatkan
berbuah manis ketika mereka berdua dipertemukan di suatu daerah yang sekarang
bernama Jabal Rahmah (Bukit Kasih Sayang).
Semua orang mengalami hal ‘pertama’.
Manusia pertama (Adam) pun mengalami hal ‘pertama’. Pertama kali diciptakan,
pertama kali manusia yang tinggal di syurga, pertama kali mencicipi buah
kholdi, manusia pertama yang tergoda oleh rayuan Syaiton, manusia pertama yang
tinggal di bumi, dan manusia pertama yang mengalami perpisahan dengan kekasih
hati sekaligus manusia pertama yang bertemu kembali dengan sang kekasih di
Jabal Rahmah.
Orang sukses bukanlah mereka yang selalu
cemerlang ketika melakukan hal ‘pertama’ dalam hidup mereka. Bukan pula orang yang pasti berhasil di percobaan
‘pertama’ mereka. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menyerah ditengah
kegagalan mereka. Kegagalan dijadikan pemecut untuk melakukan hal yang lebih
baik lagi. Hari demi hari yang kita lewati, keringat yang membasahi tubuh, air
mata yang sering keluar, tidak apa-apa asal kita tidak menyerah. Pertama kali
goreng telur dan hasilnya gosong, tidak masalah. Kamu bisa coba lagi. Pertama
kali ikut ujian masuk perguruan tinggi dan kamu tidak diterima, jangan menyerah
dan putus asa. Mungkin itu bukan yang terbaik bagi kamu. Kegagalan yang kita
alami sebenarnya bukanlah kegagalan, melainkan sebuah cara baru untuk menemukan
rumus kesuksesan tersebut. Bukankah dalam kegagalan kita sering menemukan cara
baru? Bukankah dalam kegagalan mendewasakan pikiran kita untuk lebih baik dalam
mengontrol emosi? Bahkan, kegagalan bisa menjadi sebab kamu masuk Syurga. Kita
tidak pernah tahu, karena dalam kegagalan kamu mengingat Rabb mu, bermunajat
dan meminta doa agar hajatmu dikabulkan. Saat itu kamu sangat dekat dengan
Rabbmu. Intinya jangan pernah takut untuk mencoba hal ‘pertama’ dan jangan
pernah menyerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar