Minggu, 20 Juni 2021

Sabar itu Gak Ada Batasnya!

Ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan, tidak mudah memang untuk menahan rasa untuk tidak kesal, kecewa bahkan marah. Butuh suatu energi ekstra untuk sampai ditahap.."oke gue gak papa, gue ikhlas." Dan disinilah berlaku konsep sabar. Sabar mudah untuk diucapkan tapi sulit untuk diterapkan. Ketika lisan berkata sabar sementara hati memberontak maka batin akan lelah. Batin yang lelah akan memberikan efek negatif kepada seluruh tubuh dan segala aktvitas yang kita jalankan. Itulah kenapa konsep sabar itu ada di awal, karena kalau kita benar-benar sabar semenjak masalah itu muncul maka jiwa kita akan tenang dan enteng. Sekali lagi, sabar itu ada di awal, kalau sudah dipertengahan bukan sabar lagi namanya tapi sadar. Sadar kalau permasalahan itu tidak cukup penting untuk kita pikirkan, sadar kalau jiwa kita butuh ketenangan sehingga kita harus melepaskan semuanya dengan ikhlas. Sadar kalau kita terlalu memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak akan mengganggu siklus hidup kita. Sadar kalau selama ini, kita kurang sabar. Maka dari itu, konsep sabar ini menjadi penting dan harus terus kita latih. Dan sabar ini menjadi konsep yang unik, di mana tingkatan kesabaran kita tidak akan naik level jika tidak ada permasalahan yang terjadi. Bukankah sabar bersanding dengan masalah? Jika tidak ada masalah, hidup baik-baik saja, apa yang perlu disabarkan? Aneh kedengarannya ketika kita mengatakan sabar sedang kita dalam kondisi bahagia atau tidak ada permasalahan. Namun, pada kenyataannya hidup di dunia ini penuh dengan permasalahan sehingga mau gak mau, suka tidak suka, kita akan dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Mulai dari permasalahan kecil hingga besar. Nah, berlakulah konsep sabar ini. Jadi, konsep sabar akan selalu berlaku selama kita hidup karena selama hidup kita pasti akan dihadapkan pada permasalahan-permasalahan. Kalau mau tenang, tidak ada ujian lagi, tidak ada permasalahan lagi, maka silakan meninggalkan dunia.

Lalu, sebenarnya sabar ini ada batasnya gak sih?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat salah satu keutamaan sabar di dalam QS. Al-Baqarah ayat 53: 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

 Dari ayat ini, kita dapat melihat betapa mulianya orang yang sabar. Dan di sini Allah memerintahkan kita, sebagai orang yang beriman untuk menjadikan sabar sebagai penolong kita. Artinya, iman kita dipertaruhkan lo. Seolah-olah Allah mengatakan "Jika memang benar kamu beriman, maka kalau ada ujian segeralah bersabar" dan betapa mulianya orang yang bersabar karena di akhir ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa sungguh Dia akan bersama, akan menolong orang-orang yang bersabar. Mudah bagi Allah mengatakan
اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ tanpa kata إِنَّ, tapi Allah dalam kalam-Nya menyertakan kata إِنَّ untuk meyakinkan kita sebagai orang beriman bahwa Allah pasti dan benar-benar akan menolong orang yang sabar. 

Lebih lanjut, mari kita simak QS. Az-Zumar ayat 10:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya : 

Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

Di ayat tersebut Allah menjanjikan kesempurnaan pahala yang tanpa batas bagi orang-orang yang bersabar. Dan di awal ayatnya menyatakan bahwa Allah memanggil kita, memanggil hamba-Nya yang beriman. Lagi-lagi iman kita dipertaruhkan. Allah saja menyatakan bahwa pahala (kebaikan) dari kesabaran yang kita lakukan itu tanpa batas, maka adakah hal yang menyebabkan bahwa sabar itu ada batasnya? Jadi, bisa kita simpulkan bahwa sabar itu tidak ada batasnya, tidak ada akhirnya. Untuk itu kita dihadapkan oleh berbagai permasalahan dan ujian, semata-mata untuk menguji level kesabaran kita. Apakah sudah meningkat atau masih pada level itu-itu saja. والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Untuk menambah pengetahuan kita mengenai keutamaan sabar (menahan amarah) ini, mari kita simak suatu kisah antara Rasulullah SAW dengan sahabat beliau yang mulia yaitu Abu Bakar.

Suatu ketika Abu Bakar sedang dicela oleh seseorang (dihina), kemudian Rasulullah yang melihatnya hanya duduk dan tersenyum. Kemudian, Abu Bakar membantah bahwa apa yang dipersangkakan orang itu tidak benar, seketika Rasulullah berdiri pergi dan terlihat tidak senang. Melihat Rasulullah yang pergi, Abu Bakar menyusul dan bertanya kepada Rasulullah. 

"Wahai Rasulullah, kekasih Allah. Aku melihat kau duduk dan tersenyum ketika orang tersebut menghinaku, akan tetapi ketika aku mulai membalasnya, kau segera berdiri dan pergi"

Maka dengarkanlah jawaban Baginda

"Wahai Aba Bakr, ketahuilah sesungguhnya ada malaikat bersamamu yang akan membantahnya untukmu. Ketika kau mulai membantah sebagian perkataan (celaan)nya, setan datang. Aku tidak (akan pernah mau) duduk bersama setan.” 
والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kesabaran dan kelapangan yang cukup atas setiap ujian dan permasalahan yang hadir di hidup kita.  آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ Arab-Latin: Qul yā 'ibādillażīna āmanuttaqụ rabbakum, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa arḍullāhi wāsi'ah, innamā yuwaffaṣ-ṣābirụna ajrahum bigairi ḥisāb Terjemah Arti: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Referensi: https://tafsirweb.com/8672-quran-surat-az-zumar-ayat-10.htm
قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ Arab-Latin: Qul yā 'ibādillażīna āmanuttaqụ rabbakum, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa arḍullāhi wāsi'ah, innamā yuwaffaṣ-ṣābirụna ajrahum bigairi ḥisāb Terjemah Arti: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Referensi: https://tafsirweb.com/8672-quran-surat-az-zumar-ayat-10.

Kamis, 17 Juni 2021

Siapakah Perempuan Barokah itu?

Dalam hidup, kita dihadapkan oleh berbagai pilihan-pilihan. Pilihan-pilihan tersebut akan menentukan jalan mana yang akan kita tempuh. Pilihan yang telah kita tetapkan akan mempengaruhi kehidupan kita ke depannya. Tak dipungkiri bahwa kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak mudah. Pilihan itu terkadang datang di saat kita belum siap untuk memilih atau di saat kita belum cukup informasi untuk memutuskan sesuatu. Akan tetapi, satu hal yang pasti adalah kita harus memilih. Berat memang, namun itulah kenyataannya. Maka sangat penting untuk menentukan tujuan awal kita sehingga ketika kita dihadapkan pada sebuah kesempatan untuk memilih maka kita masih memiliki koridor yang jelas. Dalam hal pernikahan misalnya, kita tetapkan tujuan kita menikah. Kehidupan seperti apakah yang kita dambakan setelah menikah. Dengan menentukan tujuan yang jelas maka kita akan memiliki bencmark untuk menetukan pilihan-pilihan yang ada di depan mata. Maka, menentukan tujuan ini sangat penting.

Tujuan pernikahan bagi setiap orang berbeda-beda. Ada yang ingin menikah untuk mencapai hidup bahagia karena akan ada pendamping yang selalu menemani. Ada juga yang menikah dengan tujuan status, agar tidak dicap jomblo. Ada juga yang menikah dengan tujuan untuk memenuhi hasrat biologis. Semua tujuan itu tidak akan saya judge salah karena saya tidak cukup ilmu dan hak untuk mengatakan kalau itu keliru. Namun yang saya highlight adalah sebagai seorang Muslim, maka alangkah dangkalnya tujuan kita jika hanya itu saja. Kita hidup di bumi Allah, maka mengharapkan ridho Allah dalam pernikahan adalah sesuatu yang mutlak. Lalu, bagaimana kita tahu bahwa Allah telah meridhoi pernikahan kita? Saya tidak tahu jawaban yang pasti, sekali lagi karena kedangkalan ilmu yang saya miliki. Wallahu a'lam bissawab. Akan tetapi, dari buku-buku tentang pernikahan yang telah saya baca, pernikahan yang mendatangkan ridho Allah adalah pernikahan yang barokah. Barokah adalah ziadatul khair (bertambahnya kebaikan). Pernikahan yang barokah akan mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangga, kesejukan ketika memandang pasangan halal, kenyamanan batin ketika menghadapi berbagai permasalahan dalam rumah tangga. Barokah tidak bisa diuukur. Hanya hati tiap pribadi dari kita yang bisa merasakan keberkahan-keberkahan yang ada. Oleh karena itu, sebagai Muslim kita disunnahkan untuk mendoakan pengantin baru dengan doa:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

Artinya: “Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal dan mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi).

Pernikahan yang barokah adalah dambaan setiap insan yang beriman. Keberkahan dari pernikahan yang barokah akan melahirkan kebahagiaan-kebahagiaan, rasa nyaman, kasih sayang bertambah yang singkatnya pernikahan yang barokah akan mendatangkan sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam kehidupan berumah tangga. Pernikahan yang barokah akan mendatangkan rizki yang barokah. Akan melahirkan generasi yang barokah, memberikan bobot untuk bumi dengan mengakkan kalimah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. Semoga kita semua bisa mendapatkan pernikahan yang barokah, mendapatkan generasi yang memberikan bobot untuk bumi dengan menegakkan kalimah La ilaha illallah. Aamiin ya Rabbal a'lamin.

Untuk mendapatkan pernikahan yang barokah maka sangat terkait dengan proses sebelum menikah. Keberkahan yang kita dapatkan dalam pernikahan memang tidak serta merta dari awal pernikahan, bisa jadi kita akan merasakan keberkahannya setelah sekian lama hidup bersama dengan pasangan kita. Akan tetapi, dengan mengikhtiarkan dari awal sebelum menikah untuk mendapatkan pernikahan yang barokah, mudah-mudahan Allah memberikah keberkahan pada pernikahan kita sejak awal kita memutuskan untuk membangun rumah tangga. Maka, peroses sebelum menikah adalah proses yang akan menentukan barokah, kurang barokah, atau tidak ada barokah sama sekali dalam kehidupan rumah tangga kita. Salah satu langkah awal adalah dengan memilih pasangan atau calon pendamping kita. Bagi seorang Muslim, penting untuk memilih perempuan barokah agar mendatangkan kebarokahan dalam rumah tangga. Dan bagi seorang Muslimah, sangat penting bagi kita untuk menjadi perempuan yang barokah. 

Perempuan yang barokah itu seperti apa sih?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat sabda Lelaki terbaik yang cintanya tak pernah berakhir, yakni Baginda Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Perempuan yang baik hati adalah yang murah maharnya, memudahkan dalam urusan perkawinannya serta baik akhlaknya sedangkan perempuan yang celaka yaitu yang mahal maharnya, sulit perkawinannya dan buruk akhlaknya.” (Mutafaqun alaih)

Selain itu, ummul Mukminin, istri tercinta Rasulullah SAW yakni ummuna A'isyah radiyallhu anha pernah mengungkapkan bahwasanya dari Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya perkawinan yang besar barakahnya adalah yang paling mudah maharnya"

Dari dua hadist tersebut, saya ingin highlight terkait mahar. Mahar adalah sesuatu pemberian yang diberikan oleh pihak laki-laki untuk perempuan yang ingin dinikahinya. Mahar adalah suatu bentuk tanda cinta dari laki-laki tersebut kepada perempuan yang bersedia untuk menemaninya sepanjang hidup bahkan hingga kelak di akhirat. Maka, sepatutnya mahar adalah sesuatu yang sakral. Dan mahar adalah pemberian wajib dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan, yang artinya jika tidak ada mahar maka pernikahan bisa menjadi tidak sah dan jika mereka melakukan hubungan suami istri akan tetap dianggap sebagai perbuatan zina. Mahar adalah hak perempuan sehingga yang berhak untuk menentukan besaran mahar yang diinginkan oleh perempuan yakni calon mempelai dari perempuan itu sendiri. Bukan dari pihak keluarga, teman atau siapa pun. 

Belakangan banyak terjadi kasus di mana mahar ditentukan atas tekanan dari pihak keluarga besar yang padahal mereka tidak punya hak untuk menentukan tersebut. Si perempuanlah yang berhak untuk menentukan besaran mahar yang diinginkannya. Meminta pendapat kepada pihak keluarga itu bagus, namun jangan sampai merasa terpaksa atau terbebani. Sebagai seorang perempuan yang mendambakan pernikahan yang barokah, maka memudahkan mahar kepada pihak laki-laki menjadi penting. Ini adalah salah satu jalan untuk memperoleh keberkahan dalam pernikahan kita. Pernikahan yang barokah akan mendatangkan rasa nyaman dan tentram, merasa lapang atas setiap ketentuan Allah, mendapatkan keturunan yang InsyaAllah barokah, memberi bobot untuk bumi dengan menegakkan kalimah La ilaha illallah. 

Seorang yang memudahkan maharnya akan mendatangkan cinta yang semakin bertambah dari pasangan halalnya. Kenapa demikian? Hal ini dikarenakan laki-laki akan berpikir bahwa si perempuan telah ikhlas dan ridho hidup bersama dia. Dengan memudahkan mahar, maka ini sebagai bukti cinta dari seorang perempuan bahwa kehidupan yang ingin dijalani bukan karena harta, kedudukan ataupun keturunan. Selain itu, memudahkan mahar adalah sebagai bentuk syiar dalam menegakkan ajaran agama. Kenapa bisa begitu?

Begini, ketika seseorang atau masyarakat melihat suatu gelaran pernikahan yang mewah dan mahar yang mahal maka secara tidak sadar otak akan bereaksi kalau pernikahan itu sulit. Pernikahan bukan lagi menjadi proses yang sakral tetapi lebih kepada ingin mempertontonkan status sosial di masyarakat. Orang-orang akan berlomba-lomba untuk membuat hajatan yang seperti itu sehingga akan melenceng dari tujuan awal pernikahan. Acara pernikahan yang seharusnya merupakan bentuk rasa syukur menjadi acara tanding-tandingan yang dengan tujuan untuk memperlihatkan status sosial sehingga bukannya akan mendatangkan kebaikan malah mendatangkan kebiasaan buruk yang baru. Apabila kebiasaan tersebut diikuti oleh orang-orang atau masyarakat lain karena melihat konsep pernikahan kita, apakah kita tidak berdosa? Wallahu a'lam bissawab.

Balik lagi deh, dari lisan manusia termulia yang tak pernah sekalipun berdusta mengatakan bahwa “Sesungguhnya perkawinan yang besar barakahnya adalah yang paling mudah maharnya". Maka cukuplah itu sebagai jaminan bagi kita, terutama perempuan untuk tidak menyulitkan mahar bagi calon pendamping kita kelak jika kita ingin meraih pernikahan yang barokah. Wallahu a'lam bissawab.


Sumber bacaan: Kado Pernikahan untuk Istriku

Lelaki Terpuji

Malam panjang   dihiasi purnama sempurna Malam dikala api majusi padam seketika Sungguh, malam itu adalah malam menyejarah yang tak pern...